Home / Opini / Spirit Natal sebagai Modal Sosial (bagian 2-selesai)

Spirit Natal sebagai Modal Sosial (bagian 2-selesai)

Katib Syuriah PC NU Kota Pontianak, Andi Nuradi.
Katib Syuriah PC NU Kota Pontianak, Andi Nuradi.

Upaya pemuka agama
Tugas para pemuka agama untuk menjadi penghulu keharmonisan sosial, baik di internal agama maupun antar agama. Berbagai perspektif sejarah tidak lagi dijadikan perbedaan yang menjurus pada sentimen keagamaan. Pemuka agama mesti mengarahkan pemahaman pemeluknya. Jangan sampai perbedaan keyakinan dijadikan ruang perdebatan yang berdampak pada ketersinggungan sosial.

Tugas pemuka agama harus lebih menekankan pada dialog untuk saling memahami, tanpa harus merubah sedikitpun keyakinan para pemeluknya. Di sinilah letak pentingnya dialog antar iman. Bukan untuk memperdebatkan perbedaan, namun untuk menemukan titik kesamaan. Yesus di Kristiani mengajarkan cinta kasih, Muhammad Rasul Allah di dalam Islam mengajarkan kasih sayang, agar Islam menjadi rahmat bagi bumi dan isinya.

Titik esensi atau substansi ajaran keagamaan akan menjadi nilai luhur dalam mendorong kemajuan pembangunan sosial. Dengan demikian sentimen negatif, saling mencurigai antar pemeluk agama terhapuskan. Dan tak kalah penting, gerakan radikal atas nama apapun tidak akan pernah mendapatkan dukungan dan tempat di negeri ini.

Wafatnya Sang Messias

Wafatnya Yesus di tiang salib pada tanggal 14 bulan Nisan dalam kalender Yahudi, merupakan titik tonggak berkembangnya ajaran yang dibawanya.

Walaupun tercatat dalam sejarah, salah satu muridnya, Yudas Iskariot, berkomplot dengan pemuka agama saat itu dengan imbalan 30 keping perak atas penangkapannya, namun Yesus tak pernah memerintahkan pembalasan pada murid-muridnya untuk membunuh Yudas. Memanggul penderitaan sepanjang via dolorosa dijalani dengan ketabahannya.

Sebelumnya, teriakan Gubernur Romawi di Palestina Pontius Pilatus “ibis ad crucem!” menggema. Tidak ada sumpah serapah atau kata-kata kutukan yang diucapkan Yesus untuk mengecam para pembesar Romawi dan pemuka agama Yahudi yang mengekskusinya. Sang Messias benar-benar memberikan gambaran keteladanan bagi pemeluknya; terus berbuat baik di tengah masyarakat tanpa peduli cemoohan dan hardikan para pemuka agama Yahudi di masanya. Di sini, Yesus mengedepankan semangat berbuat untuk kemaslahatan umat.

Semangat untuk berlomba-dalam melakukan kebaikan di tengah-tengah masyarakat, semangat individu untuk membawa kebaikan di masyarakat tidak hanya ada pada ajaran Kristen. Di Islam kita mengenalnya dengan istilah fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebajikan.

Semua agama selalu menekankan pentingnya eksistensi diri di tengah masyarakat. Membawa perubahan yang lebih baik dan kemakmuran secara bersama-sama. Dengan begitu, agama dihadirkan di tengah masyarakat untuk perubahan, bukan untuk pembodohan, sebagai syarat untuk kemajuan kehidupan bersama, yang tentunya dengan tetap berpegang teguh pada adab agama masing-masing (alhablu minannas).

“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (QS. Maryam : 33).

Selamat Natal. Damai di hati, damai di bumi. Shalom. (Andi Nuradi)

Penulis adalah Katib Syuriah PC NU Kota Pontianak.

Check Also

KONTRA WAHABISME: DITINJAU ULANG

M Kholid Syeirazi Sekjen PP ISNU Pertama, saya membayangkan Imam Bukhari bimbang. Di juz 4 …

Tinggalkan Balasan