Home / Mutiara Sufi / Mencandra Keikhlasan dalam Kehidupan Sehari-hari

Mencandra Keikhlasan dalam Kehidupan Sehari-hari

06whirling_dervishe_290506kTerma Ikhlas memang belum pernah berhenti untuk dikaji. kata ini seolah menjadi bagan terpenting dalam wacana sufistik dari klasik hingga modern. Hal ini dibuktikan dengan lahirnya beragam karya para ulama yang mencoba membedah terminologi ini dari berbagai sudut. Bak air yang tidak pernah berhenti mengalir, Ikhlas terus menerus berjalin kelindan dalam setiap kehidupan manusia. Ia menjadi elan vital dalam berbagai sendi perjalanan seorang hamba. Bagaimanakah sebenarnya konsep-konsep keihklasan yang begitu fenomenal ini?

Sebuah kitab monumental karya ulama sunni terkemuka Abu Hamid Muhammad al-Ghazali yakni Ihya’ Ulumuddin, jauh-jauh hari membahas masalah Ikhlas ini dengan begitu baik. Penjelasan beliau begitu sempurna mengajarkan hakikat keikhlasan dan artikulasinya dalam keseharian manusia. Berikut kutipan yang beliau sampaikan :

اعلم أن كل شىء يتصور أن يشوبه غيره فإذا صفا عن شوبه وخلص عنه سمى خالصا ويسمى الفعل المصفى المخلص إخلاصا قال الله تعالى من بين فرث ودم لبنا خالصا سائغا للشاربين فإنما خلوص اللبن أن لا يكون فيه شوب من الدم والفرث ومن كل ما يمكن أن يمتزج به

Begini kira-kira maksudnya

ketahuilah bahwa segala sesuatu yang berbentuk, hendaknya benar-benar murni dari hal-hal lain yang dapat mencederai kemurnian bentuknya tersebut. (Karna) apabila sudah tidak ada sama sekali campuran (yang lain) dalam suatu bentuk, (dalam keadaan seperti ini) maka bentuk tersebut layak dinamai murni. Sedangkan dalam aspek aksi, pekerjaan yang benar-benar murni dinamakan ikhlas”.

Statement cerdas penuh keanggunan ini menjadi lambang prihal betapa tajamnya perspektif al-Ghazali dalam menyisir semak belukar mencari hakikat keikhlasan. Beliau memberikan analogi sederhana terkait hal ini dengan mengutip satu ayat dalam al-Quran yang berbicara mengenai “air susu yang murni”. Bahwa kemurnian air susu itu apabila tidak ada campuran darah dan kotoran atau lainnya sehingga kemurnian air susu itu tercemari. Lantas bagaimana penjelasan selanjutnya, mari kita ikuti kutipan berikut  :

والإخلاص يضاده الإشراك فمن ليس مخلصا فهو مشرك إلا أن الشرك درجات فالإخلاص في التوحيد يضاده التشريك في الإلهية والشرك منه خفي ومنه جلي وكذا الإخلاص والإخلاص وضده يتواردان على القلب فمحله القلب وإنما يكون ذلك في القصود والنيات

ikhlas merupakan lawan dari syirik, maka ketika seorang sudah tidak termasuk dalam kategori mukhlis, maka secara otomatis dia adalah musyrik. Hanya saja syirik memiliki beberapa tingkatan. Ikhlas dalam disiplin Tauhid merupakan antonim dari perbuatan syirik (menyekutukan) Tuhan. Syirik ada yang samar ada pula yang terang-terangan. Begitupun halnya dengan ikhlas, baik ikhlas dan antonimnya  sama-sama berkelindan di dalam hati. Demikian pusat dari pada ikhlas adalah hati dan beroperasi melalui maksud dan niat”.

Demikian, keikhlasan adalah sebuah kondisi internal manusia yang tidak dapat kita ukur sejauh mana kadar kuantitasnya. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa syirik adalah lawan dari ikhlas, menunjukkan bahwa taraf ikhlas adalah kebersihan secara total yang ada di dalam hati manusia. Kebersihan hati secara total ini kemudian akan membentuk sebuah perilaku imparsial dalam kehidupan. Hal ini diperoleh dengan kekuatan diri yang benar-benar mengantarkan seseorang kepada sikap stabil.

Jika sikap imparsial telah tertanam erat dalam kehidupan manusia, maka seseorang akan teguh pendirian dalam setiap sikapnya. Sikap Ikhlas ini menjadi bahan paling dasar untuk membentuk kepribadian seseorang yang teguh, seimbang dan proporsional dalam bersikap dalam kehidupan sehari-hari. (M Hasani Mubarok)*

*Penulis adalah Santri di Ponpes Al-Jihad sekaligus aktivis PMII Komisariat IAIN Pontianak.

Check Also

Anjangsana Kota Wisata Singkawang, Satgas Layanan Jaminan Produk Halal Temui Pelaku Usaha

Singkawang – NU Khatulisiwa, Rabu, 28/09, Satuan Tugas Layanan Jaminan Produk Halal (Satgas JPH) Kementerian …

Tinggalkan Balasan