Home / Slider / Al Habib Ridho, Istiqomah Abdikan Diri untuk Pendidikan

Al Habib Ridho, Istiqomah Abdikan Diri untuk Pendidikan

image002

AL-HABIB SYARIF MUHAMMAD RIDHO BIN AHMAD BIN AGIL BIN YAHYA  (1927-2015) Habib Ridho panggilan akrabnya, beliau lahir di Pekalongan tahun 1927, beliau wafat pada usia 88 tahun tanggal 15 Agustus 2015 dan dikebumikan di Pontianak, Kalimantan Barat. Habib Ridho seorang pendiri Pondok Pesantren Darun Naim yaitu sebuah Lembaga Pendidikan Agama Islam yang cukup berkembang di Pontianak, Kalimantan Barat. Habib Ridho merupakan putra dari pasangan Syarif Ahmad bin Agil bin Yahya dan Syarifah Nur Laila binti Muhammad binti Syekh Bafaqih, dari Ayah dan Ibunya Habib Ridho mendapat pendidikan dan nilai-nilai dasar Islam yang kokoh.

Semasa hidupnya beliau telah menikah 2 (dua) kali, karena isteri pertama yang bernama Syarifah Hidayah binti Abdullah bin Yahya, telah terlebih dahulu wafat meninggalkan beliau pada tahun 2005. Kemudian Habib Ridho menikahi Syarifah Sofia Maryam Al-Idrus. Dari isteri pertama dikaruniai 9 (sembilan) putra-putri diantaranya; Syarifah Sakinah (lahir tahun 1960), Habib Gosim Yahya (lahir 1961), Syarifah Khadijah (lahir 1963), Habib Ali Yahya (lahir 1964), Habib Mustafa Yahya (lahir 1965), Habib Helmy Yahya (lahir 1968), Habib Ahmad Zaki Yahya (lahir 1969), Habib Abdullah Yahya (lahir 1974) dan Syarifah Nur Laila (lahir 1976).

Meskipun diusia senja bahkan dalam keadaan sakit, semangat Habib Ridho dalam berdakwah justru semakin menguat. Berawal dari nasihat Ibunda yang berpesan kepada Habib Ridho untuk mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Maka, sedari kecil ia mulai bersekolah di sebuah sekolah Belanda bernama Holland Arabic School dan di sore harinya belajar di sekolah Arab untuk memperdalam ilmu agama. Belajar di dua tempat berbeda dalam satu hari tentu tidak mudah dan membutuhkan semangat belajar yang sangat tinggi, mengingat dirinya masih kecil saat itu. Sayangnya hal tersebut hanya berlangsung beberapa tahun, masuknya Jepang menjajah Indonesia memaksanya pindah sekolah. Beliau meneruskan pendidikan di sekolah agama, ketika menapaki sekolah lanjutan tingkat atas beliau memutuskan untuk masuk Madrasah Aliyah. Sejak duduk di bangku Aliyah beliau sudah mulai mandiri dengan mengajar di Ar-Rabithah, Solo, Jawa Tengah.

Belajar sambil mengajar justru memotivasi beliau untuk berprestasi secara akademik. Habib Ridho berhasil lulus Madrasah Aliyah dengan nilai memuaskan dan meneruskan kuliah di Universitas Gajah Mada pada tahun 1953. Mengenyam pendidikan di kampus tersebut hanya bertahan selama dua tahun, beliau memutuskan untuk pindah dan menuntut ilmu di sebuah Perguruan Tinggi milik Belanda di Kota Solo demi meraih gelar sarjana muda dalam bidang pedagogi. Mencoba menghidupi diri sendiri sejak menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah dengan mengajar adalah cermin bahwa dirinya memiliki semangat tinggi untuk berbakti di dunia pendidikan. Disamping itu juga bukti bahwa beliau menuruti apa yang diperintahkan oleh orangtuanya. Namun dalam hidup cobaan selalu ada, ketika Habib Ridho mulai mencoba untuk berdagang, hampir bisa dikatakan bahwa beliau tak pernah menggapai sukses. Berbagai barang dagangan dicoba, mulai dari baju hingga makanan tapi keuntungan tak kunjung diperoleh.

Habib Ridho teringat pesan Ibunda, yang mengarahkannya untuk mengabdi di dunia pendidikan. Maka setelah lulus, selain mengajar beliau juga mulai berdakwah ke masjid-masjid. Memilih Negeri sendiri untuk mengembangkan ilmunya dalam berdakwah, beliau memutuskan hijrah ke kota Pontianak. Pontianak bukanlah tujuan utamanya, karena beliau ditawari menjadi Imam besar di Miri, Malaysia. Beliau layak mendapat tawaran itu, mengingat kapasitas keilmuannya, ditambah lagi menguasai bahasa Inggris, Arab, dan Belanda. Selang beberapa lama berada di Pontianak, kemudian hijrah untuk berdakwah ke negeri seberang tersebut. “Saya ke sana bukan berarti menerima tawaran menjadi imam besar di sana,” ucapnya. Tak lain tujuannya ke Malaysia adalah untuk merasakan atmosfer dakwah di sana.

Saran Habib Sholeh
Sesampainya di Malaysia, fasilitas mewah menyambutnya. Mulai dari tempat tinggal hingga mobil yang siap mengantarnya ke tempat tujuan untuknya dan keluarga. Habib Ridho diajak berkeliling untuk berdakwah di beberapa tempat di Malaysia, seperti Kuala Lumpur dan Johor. Beliau juga sempat bertemu mufti Serawak, setelah empat puluh lima hari berdakwah di Malaysia, beliau memutuskan untuk kembali ke Pekalongan guna berunding dengan keluarga, keputusan apa yang nantinya harus diambilnya. Sebelum ke Pekalongan, beliau singgah sejenak di Pontianak atas ajakan para ulama di Pontianak, diantaranya Habib Sholeh Al-Haddad dan Guru Ibrahim. Setiba di Pontianak Habib Ridho menceritakan kebimbangannya dalam mengambil keputusan kepada Habib Sholeh Al-Haddad yang menjadi salah seorang gurunya, meskipun mengalami gangguan penglihatan beliau merupakan seorang hafizh atau penghafal Al-Qur’an.

Mendengar kebimbangan tersebut, Habib Sholeh memberikan jawaban singkat namun menenangkan hati, “Kamu lebih baik tinggal di Pontianak, dan dirikan pesantren. Lebih baik tinggal di Pontianak. Di sana masih kurang pendakwah. Saya melihat, kamu sangat potensial.” Berbekal ucapan Habib Sholeh tersebut, beliau kembali merundingkannya bersama keluarga. Ternyata keluarga senada dengan Habib Soleh, mereka lebih memilih untuk tinggal di Pontianak. Memakmurkan negeri sendiri dengan ilmu. Mendengar hal tersebut, Habib Ridho merasa lega, orang-orang yang beliau cintai yang selalu berada di sekitarnya tidak silau akan harta dunia semata. Padahal, jika memilih Malaysia, tentu lebih menggiurkan secara ekonomi tapi bukan hal tersebut yang menjadi tujuan utamanya dan juga keluarga.

Masa awal menetap di Pontianak sekitar tahun 1980 beliau melaksanakan dakwah keliling wilayah Kalimantan Barat khususnya di Kota Pontianak, hingga kemudian membentuk perkumpulan pengajian yang diberi nama Al-Ikhwah. Nama itu pula yang dipakai untuk penyelenggaraan Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) dan Madrasah Ibtidaiyah. Melalui Lembaga Pendidikan tersebut akhirnya menjadi cikal bakal pendirian Pondok Pesantren Darunna’im, hingga saat ini penyelenggaraan pendidikan di Lembaga Pendidikan AL-Ikhwah masing berlangsung. Beliau membuka Pondok pesantren sesuai pesan Habib Sholeh.

Namun bukan pesantren miliknya semata, melainkan pesantren yang didirikan oleh beberapa orang termasuk dirinya. Pondok Pesantren As-Salam nama lembaga pendidikan tersebut. Pondok Pesantren yang didirikan bukan oleh satu orang tentu akan menimbulkan banyak ide dan pemikiran, terkadang bersinggungan dengan berbagai kepentingan lain. Maka, agar lebih fokus dengan ide-idenya sendiri, beliau pun membangun Pondok pesantren sendiri diberi nama “Pesantren Darun Naim”, alasan lain pendirian Pondok pesantren ini adalah demi mempersatukan umat Islam tanpa memandang ras atau etnik.

Pondok Pesantren Darunna’im dirintis oleh Al Allamah Al Habib Syarif Muhammad Ridho Yahya sejak tahun 2002. Dengan partisipasi, saran dan bantuan dari semua kalangan (Pemerintah, Habaib, Ulama, Para Murid, Kaum Muslimin dan lain-lain). Maka, pada tahun 2005 diresmikanlah Pondok Pesantren Darunna’im. Pondok Pesantren Darunna’im Pontianak Sejak awal pendiriannya diniatkan sebagai Lembaga Pendidikan Islam yang diformat dengan tujuan; Mencetak generasi qur’ani yang berkepribadian utuh dan unggul dalam ilmu dan amal. Mendidik generasi islam yang memiliki komitmen keislaman yang tinggi dengan ciri, beraqidah lurus, beribadah benar dan berakhlak mulia. Melahirkan da’i tangguh dan mampu menciptakan kreatifitas berdakwah dalam menyiarkan agama kepada ummat.

Untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, dalam perkembangannya Pondok Pesantren Darunna’im menerapkan konsep pendidikan Islam dengan memadukan kurikulum pendidikan Nasional dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dan Kurikulum 2013 serta materi-materi yang berbasis syari’ah islam. Sedangkan proses kegiatan belajar sehari-hari dijalankan dengan pola pengasuhan berdasarkan prinsip “Mengasuh Dengan Hati Keteladanan”. Langkahnya mendirikan pesantren dengan niat mulia tersebut mendapat sambutan positif dari pemerintah setempat bahkan B.J. Habibie yang menjabat Presiden kala itu. “Saya sempat bertemu dengan beliau (B.J. Habibie) dan menyampaikan niat mendirikan pesantren dengan tujuan tersebut. Beliau menyambutnya dengan sangat baik,” kata Habib Ridho. Kini sepeninggal Habib Ridho, pengasuh Pondok Pesantren digantikan oleh putra beliau yakni Habib Ahmad Zaki Yahya bersama sang kakak Habib Ali Yahya.

Salafi modern
Meski mendapat sambutan sangat baik dari berbagai pihak, itu semua tak membuatnya serta merta berjalan mulus. Di tahun pertama pembukaan, hanya ada 6 (enam) santri. Habib Ridho tak patah arang, beberapa kali meminta masukan dari Habib Salim Asy-Syathiri. Menapaki tahun ke 10 Pondok Pesantren Darunna’im melangkah lebih maju, dengan segenap kemampuan dan usaha merintis dan mendirikan Pendidikan formal dibawah naungan Kementerian Agama yakni MTS dan MA Darunna’im. Sarana dan prasarana yang memadai, sumber daya manusia yang profesional, penuh dedikasi, kurikulum yang terintegrasi dan proses pembelajaran berkualitas terus diupayakan, semua dilakukan untuk menjadikan Pondok Pesantren Darunna’im sebagai Lembaga Pendidikan Islam yang modern dan berkualitas tinggi, mampu mencetak generasi Rabbani yang unggul dalam Ilmu, Amal, Akhlak dan dapat berkontribusi dalam menjayakan Islam dan memajukan bangsa. Dalam pelajaran bahasa, selain diajarkan bahasa Arab dan Inggris, di pesantren tersebut juga diajarkan bahasa Mandarin, mengingat banyaknya etnis Tionghoa di wilayah tersebut.

Habib Ridho juga menerapkan sistem pesantren yang disebutnya “salafi modern”. Beliau menyebut demikian karena pembelajarannya tetap menggunakan kitab-kitab para salaf. Santri yang belajar di tempat ini juga diharuskan memakai gamis dan imamah. Pesantren ini pun tak jarang dikunjungi tokoh ulama termasyhur maupun dari kalangan pejabat Nasional dan lokal, seperti Habib Umar Bin Hafidz. Pejabat Negara yang pernah berkunjung untuk bersilaturrahmi dan mendukung pelaksanaan pendidikan di Pondok Pesantren Darunna’im, diantaranya Mantan Kapolri Timur Pradopo, Hatta Rajasa, Mantan Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri, Lutfi Hasan Ishaq dan lain-lain. Kini bukan hanya pesantren yang berdiri di area tersebut, tapi juga ada masjid megah yang tak kalah dengan masjid agung di Pontianak. Terdapat pula paviliun  fasilitasnya setara dengan hotel berbintang diperuntukkan bagi para tamu beristirahat.

Selain mengurus pesantren, Habib Ridho juga membuka majelis terbuka untuk umum. Anggota majelisnya bertambah banyak, bahkan beberapa orang masuk Islam seusai dirinya memberikan pelajaran dan mauizhah hasanah di majleis itu. “Saya lebih suka mengajar di majelis, karena membuka kitab menerangkan apa yang di dalam kitab sehingga meminimalisasi kesalahan, dibandingkan dakwah atau ceramah. Saya juga takut riya’. Meski dakwah atau ceramah itu juga dibutuhkan dalam menyampaikan sesuatu,” ujarnya.

Ulama kharismatik ini adalah Mursyid Tariqat Qadiriyah Naqsabandiyah, Tariqat tersebut awalnya merupakan penggabungan 2 (dua) tariqat atas inisiatif Syekh Khatib Sambas. Tariqat ini kemudian berkembang dan diteruskan oleh KH. Muslih Pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyah Meranggeng, Semarang, Jawa Tengah. Selain itu, beliau juga mengikuti Tariqat Alawiyah dan Tariqat Ratibul Haddad. Pelaksanaan pengajian tariqat berlangsung di Pondok Pesantren Darunna’im setiap hari sabtu sore, adapun pengajian kitab-kitab salafiah (kitab kuning) yang membahas kajian dari 4 (empat) mazhab dilaksanakan setiap hari minggu pagi dan terbuka untuk umum. Beliau sangat gemar membaca berbagai macam kitab, dalam keadaan santai pun beliau menyempatkan diri sambil membaca, tak heran jika beliau sangat menguasai pemikiran yang bersumber dari 4 (empat) mazhab tersebut.

Putra-putrinya mengenal Abah sapaan akrab di dalam keluarga sebagai pribadi yang ulet, teguh pendirian, gigih dalam memperjuangkan sesuatu yang ingin diraih dan sangat disiplin. Kedisiplinan diajarkan Abah sebagaimana dituturkan Habib Ali Yahya, “Abah itu sangat disiplin, kami anak-anaknya kalau waktunya sarapan jam 7 ya harus sarapan, begitu juga dalam hal lainnya”. Dalam mendidik anak beliau mengajarkan untuk hidup mandiri, ibadah tidak boleh ditinggalkan dan tegas dalam pendidikan. Maka, tak heran seluruh anak beliau mampu menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri.

Habib Ridho tak sendirian dalam mencapai hasil yang diperolehnya. Tentu semua itu tak lepas dari tuntunan dan doa para guru yang telah membentuknya menjadi pribadi teguh pendirian. Seperti Ustadz Abdullah bin Hamid Al-Hinduan, Habib Soleh bin Alwi, Ustadz Awab Ba Mifta. Juga selalu ada murid-muridnya yang kini telah menjadi orang terkenal. Sebut saja misalnya Muhammad Assegaf pengacara ternama, Thoha bin Abdillah tokoh yang telah malang-melintang di dunia politik, Husein Ibrahim purnawirawan laksamana muda, juga Salim Segaf Al-Jufri, menteri sosial. Habib Ridho benar-benar menghabiskan waktu dan tenaganya untuk berbakti di bidang pendidikan. Di usianya yang senja sebelum wafat beliau pernah berpesan untuk semua, “Melakukan sesuatu apa pun itu haruslah ikhlas karena Allah.” (Budiyono)

Penulis adalah Ketua Lakpesdam NU Kota Pontianak  
Sumber : www.darunnaim.com Ichsan Suhendra /http://majalah-alkisah.com Wawancara bersama Al-Habib Ali Yahya

Tinggalkan Balasan