Home / Figur / Syamhudi : Keuletan Mengantarkannya Sebagai Pemasok Bibit Lele

Syamhudi : Keuletan Mengantarkannya Sebagai Pemasok Bibit Lele

img_8850“Tidak jarang seseorang yang memulai dari usaha kecil-kecilan namun perlahan-lahan menjadi usaha yang menjanjikan. Hanya dibutuhkan kesabaran, tahan uji dan ketekunan yang akan membawa seseorang melampaui masa-masa sulit, dan mampu bangkit dari kegagalan,” Syamhudi.

Syamhudi, pria kelahiran 33 tahun lalu di Pontianak, adalah satu dari sekian banyak pembudidaya ikan lele di daerah Siantan, Kecamatan Pontianak Utara, khususnya pada pemijahan dan pendederan lele. Pemijahan merupakan sebagaian tahapan dalam teknik budidaya lele yakni pembuahan pada lele betina. Sedangkan pendederan yaitu pemeliharaan benih ikan lele yang berasal dari pembenihan hingga mencapai ukuran tertentu.

Setelah lulus dari salah satu pesantren di Jawa, Syamhudi melanjutkan kuliah di perguruan tinggi agama di Kota Pontianak. Semula tidak ada niatan untuk membudidayakan lele, kebetulan saja kata Syamhudi, ketika bertandang di kediaman teman kuliahnya pada 2007, dia menjumpai kolam terpal yang berisikan ikan lele milik temannya itu.

“Sejak itulah saya tertarik memelihara ikan lele,” ujarnya kepada Suara Pemred, Selasa (24/3).

Dengan status sebagai mahasiswa, kebutuhan sehari-hari Syamhudi hanya berharap dari pemberian orangtuanya. Keperluan untuk membayar uang kuliah dan lain sebagainya, itu membuat Syamhudi berpikir untuk melakukan aktivitas yang dapat mengahasilkan uang.

“Malu rasanya jika saya terus-terusan meminta uang kepada kedua orangtua,” kenang pria berkacamata ini.

Syamhudi terkesan lantaran temannya bisa kuliah sambil bekerja memelihara ikan lele yang saat itu masih dipasarkan di lingkungan tempat tinggal temannya itu. Setiapkali panen dari satu kolam berukuran 4 x 6 meter, temannya mendapatkan keuntungan bersih berkisaran Rp 1 jutaan. Setidaknya tambah Syamhudi, untuk menutupi sebagian kebutuhan kuliah bisa diminimalisir.

Dengan rasa takjub, Syamhudi mencoba ingin tahu lebih jauh, bagaimana proses keberhasilan temannya itu. Dia tidak mau hanya berpikir pasif bahwa semua itu hanya takdir dari Allah. Sampai akhirnya setelah beberapa kali ketemu dengan temennya, Syamhudi termotivasi untuk membudidayakan ikan lele sekaligus sebagai usaha kecil-kecilan.

Semula Syamhudi bingung harus berusaha apa, karena dia tidak memiliki modal, juga bisnis apa yang cocok untuk dilakukannya. Namun dia terus mencari ide bisnis yang cocok dan mampu dia lakukan serta tidak membutuhkan modal besar. Modal bukan alasan utama bagi orang yang benar-benar ingin berusaha, akan selalu ada jalan bagi orang yang mau serius mencarinya.

Ketertarikan untuk membudidayakan ikan lele lanjut dia, direalisasikannya dalam waktu yang tidak begitu lama saat sesudah melihat kolam milik temannya itu. Bermodalkan uang sebesar Rp 500 ribu yang dia dapat dari orangtuanya, Syamhudi mengajak temannya ke pasar membeli perlengkapan untuk membuat kolam ikan dari terpal. Dengan modal itu pula, dia membeli bibit ikan lele yang masih berumur tiga minggu.

“Teman saya itu yang paham apa-apa saja perlengkapan yang mesti dibeli untuk membuat kolam terpal dan membeli bibit lele. Saat itu saya beli 500 bibit lele. Untuk pemula seperti saya, itu sudah cukup banyak,” imbuhnya.

 

Pindah ke Pemijahan Lele

Pada 2007 usaha pertamanya dengan bibit lele 500 ekor ini, di bulan ketiga yang umumnya masuk waktu panen, ternyata Syamhudi mengalami kegagalan. Dari 500 ikan, hanya tersisa puluhan ekor saja.

Syamhudi merasa heran atas kejadian itu. Menurutnya, dia rutin memberikan pakan. Tidak puas, dia pun berusaha mencari tahu penyebab kematian lele. Mulai dari bertanya kepada temannya hingga browsing cara pemeliharaan lele.

Usut punya usut kematian lelenya itu disebabkan air yang digunakan tidak cocok. Ketika hujan tiba sambung dia, air kolam bercampur air hujan, maka PH (Power of Hydrogen) atau derajat keasaman air akan berubah. Sesuai dengan yang dia pelajari, standart keasaman PH air untuk kolam lele itu harus 6-8, tapi saat hujan PH-nya bisa turun ke level 5. “Ini bisa mengakibatkan kematian pada lele,” ucapnya.

Ditambahkannya, pohon pepaya dan batang pisang tidak hanya dapat digunakan sebagai penstabil PH kolam lele, namun dapat juga berfungsi sebagai obat alami bagi ikan lele pada saat musim hujan, biasanya pohon pepaya atau batang pisang yang dimasukan ke dalam kolam lele akan ditumbuhi oleh lumut dan lumut tersebut akan dimakan oleh ikan lele yang tanpa disadari sudah mengandung obat herbal.

Syamhudi mengaku, cuaca yang tidak menentu menjadi satu di antara kendala budidaya lele kolam terpal. Hingga 2010, usaha pembesaran lele yang ditekuninya dirasa kurang menjanjikan. Pasalnya, resiko yang dihadapi Syamhudi cukup besar yakni potensi kematian lele, dengan alasan lahan yang tidak begitu luas serta sewaktu-waktu air pasang ditambah musim penghujan.

Kemudian Syamhudi belajar memijahkan lele. Dia mengaku, selain membutuhkan keahlian, memijahkan lele tidak terlalu memerlukan biaya besar. Cukup sepasang indukan lanjutnya, jika berhasil bertelur minimal 50 persen dari puluhan ribu telur dapat dibesarkan.

Beberapakali mengikuti pelatihan budidaya lele, Syamhudi terlihat piawai memijahkan lele. ini dibuktikan ketika wartawan Suara Pemred datang di kediamannya, lalu dia menunjukkan cara memijahkan lele.

“Telur-telur lele yang berhasil menetas kemudian dideder untuk dibesarkan selama beberapa minggu, setelah itu baru bisa dijual,” ungkapnya.

Dengan pengetahuan dan keahlian tentang pemijahan dan pendederan yang dimilikinya, Syamhudi tidak lantas lupa atas tanggungjawab sosial terhadap warga di sekitar lingkungannya. Dia mengajak warga yang mau berusaha seperti apa yang dilakukannya saat ini, pemijahan dan pendederan lele.

Memang sulit awal untuk mengajak warga untuk membuat peluang usaha. Namun lambat laun, tiga kelompok berhasil terbentuk atas dorongan Syamhudi. “Baru-baru ini nambah tiga kelompok minta didampingi,” sebutnya.

Syamhudi mengungkapkan, modal yang dikeluarkannya untuk mendapatkan sepasang indukan yang didapat dari mitra usahanya hanya Rp 300 ribu dan pakan cukup Rp 600 ribu. Dari sepasang indukan tersebut, dapat menghasilkan kurang lebih 20 sampai 30 ribuan ekor dengan harga jual bibit layak sebar Rp 250 perekornya.

“Keuntungan bersih setelah dipotong modal dan biaya perawatan, katakan 20 ribu ekor, per indukan bisa mengantongi Rp 2,5 juta,” papar Syamhudi yang memasarkan bibit lelenya sampai ke Kabupaten Ketapang ini.

Dia mengakui, tidak jarang seseorang yang memulai dari usaha kecil-kecilan namun perlahan-lahan menjadi usaha yang menjanjikan. Hanya dibutuhkan kesabaran, tahan uji dan ketekunan yang akan membawa seseorang melampaui masa-masa sulit, dan mampu bangkit dari kegagalan.

Sebagai pembudidaya ikan lele, Syamhudi berpesan kepada siapa saja yang ingin memulai usaha. Menurutnya, keberhasilan selalu membutuhkan waktu dan proses, tidak ada yang tiba-tiba. Seandainya ada, bukanlah yang baik untuk diikuti, karena biasanya jumlahnya sedikit dan langka,” ucapnya.

Biodata :

Nama                                      : Syamhudi
Tempat, tanggal lahir        : Pontianak, 21 September 1981
Alamat                                    : Jl. Khatulistiwa Gg. Dharma Putra 02 Kel. Siantan Hilir Pontianak Utara
Istri                                           : Suryani (28)
Anak                                        : Nizam Bisyaya (4)

Pendidikan :

  • 1995, SDN 09 Sambas
  • 1998, MTs Al-Amien Prenduan Jawa Timur
  • 2001, MA Al-Amien Prenduan Jawa Timur
  • STAIN Pontinak 2004

Prestasi :

Pemateri di berbagai kegiatan berkenaan perikanan, khususnya lele.

Aktivitas :

  • Ketua Gapoktan Mina Khatulistiwa
  • Penyuluh Swadaya Perikanan Pontianak Utara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *