Home / Teladan / KH Muhammad Salamun, Penghafal Alquran yang Gemar Sedekah

KH Muhammad Salamun, Penghafal Alquran yang Gemar Sedekah

salamunKiai Haji Drs Muhammad Salamun MPd adalah sosok kiai yang dikenal alim dan cerdas. Beliau dilahirkan pada 12 Januari 1964 di Nganjuk, Provinsi Jawa Timur. Semasa hidupnya, anak dari pasangan Haji Abdus Somad dan Hajah Hasanah ini, selain dikenal alim dan cerdas, juga dikenal sebagai sosok kiai yang tegas dan berani kepada siapapun selama tindakan orang itu salah. Orangtuanya hanya petani desa.

Jika dirunut dari geneologis keluarganya, diketahuilah jika keandalannya dalam ilmu agama, diperolehnya dari sang kakek, Kiai Hasyim yang mendirikan Pondok Pesantren Al-Hasyimiah Jara’an Tanjung Anam, Nganjuk. Kakeknya punya peran membentuk Salamun kecil sehingga kelak menggemari dan mendalami ilmu agama. Di samping mempelajari agama lewat bimbingan kakek dan ayahnya, Salamun juga mengenyam pendidikan umum.

Berdasar penuturan istrinya, Hj Khalilah, Salamun menyelesaikan jenjang Sekolah Dasar di Nganjuk. Lantaran tertarik pada pengetahuan agama, Salamun lantas melanjutkan pendidikannya dengan menjadi santri di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Anak kedua dari delapan bersaudara ini menyelesaikan jenjang sekolah Tsanawiyah dan Aliyah di Pondok Pesantren itu. Selama enam tahun, Salamun digembleng pengetahuan umum sekaligus pengetahuan agama dari kitab-kitab salafiyah karya ulama-ulama ternama.

Di pondok pesantren ini, Salamun belajar bahasa arab, ilmu alat dan mendalami kajian kitab-kitab klasik. Semasa hidup, Salamun dikenal sebagai santri yang rajin belajar. Baginya, ilmu pengetahuan mewujud pelita yang menerangi hati. Maka itu, menuntut ilmu di sekolah atau di pondok pesantren, hukumnya wajib. Usai menyelesaikan pendidikan Tsanawiyah dan Aliyah di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Salamun lantas melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Pondok Pesantren Tahfidzul Quran di Kudus, Provinsi Jawa Tengah yang diasuh oleh Kiai Haji Arwani. Semasa menimba ilmu di pondok pesantren Lirboyo, Salamun sudah gemar menghafal surah demi surah Alquran. Demi menyempurnakan hafalan Alqurannya, Salamun menjadi santri Kyai Haji Arwani Kudus. Karena memiliki ingatan yang kuat, Salamun terbilang hafidz (penghafal) Alquran yang cepat.

Setamat nyantri, seperti diceritakan istrinya, Salamun dihadapkan pada masalah. Kisahnya, ayahnya menyarankan Salamun untuk tetap tinggal di kampung halamannya, berdakwah sembari bekerja. Saran itu terlontar tatkala Salamun menyatakan keinginannya untuk meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi. Salamun gelisah atas saran ayahnya. Namun, dia teringat dengan pengajaran Kiai Haji Mahrus Aly, Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo sewaktu nyantri di pondok tersebut. Kiai Mahrus Ali berujar “Melawan (tidak menuruti permintaan/keinginan) orangtua untuk menuntut ilmu itu tidak apa-apa”.

Berbekal pendapat Kiai Haji Mahrus Aly Lirboyo dan disulut bara kecintaannya terhadap ilmu, Salamun akhirnya merantau dan menjejakkan kaki ke Kota Pontianak pada 1985. Salamun muda dikenal sebagai sosok yang teguh pendirian dan konsisten. Salamun percaya dan yakin, jika hidup diniatkan untuk menuntut ilmu dan memanfaatkannya untuk mengajarkan kepada orang lain, pertolongan Allah bakal datang dari jalan yang dikehendaki-Nya.

Hj Khalilah menceritakan, sesampainya di Kota Pontianak, Salamun tinggal di Masjid Mujahidin yang terletak di Jalan Ayani, Kota Pontianak. Selang beberapa waktu, Salamun mendaftar menjadi mahasiswa Jurusan Bahasa Arab di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Pontianak di Jalan WR Supratman, Kota Pontianak. Lokasi Masjid Mujahidin dengan kampus terbilang berdekatan. Jaraknya hanya berkisar 500-700 meter. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, setidaknya membutuhkan waktu 10-15 menit. Hal itu, tentu saja memudahkan beliau kuliah. Di samping kuliah, Salamun muda telah aktif berdakwah.
Menurutnya, ilmu hanya menemukan kemanfaatannya jika disampaikan ke orang lain, mengajak kepada kebaikan dan menegakkan syariat islam.

Aktivitasnya berdakwah sama sekali tak mengganggu perkuliahannya. Karena pintar dan cerdas, Salamun menyabet lulusan sarjana terbaik pada 1991 dan menjadi asisten dosen di perguruan tinggi itu. Tak lama kemudian, Salamun lantas menjadi dosen berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) di perguruan tinggi itu. Demi mematangkan pengetahuannya, Salamun kemudian melanjutkan S2 di IKIP Malang dengan mengambil Jurusan Master Pendidikan (MPD).

Salamun juga tercatat sebagai ustaz atau pengajar di Pondok Pesantren Darul Ulum, Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Selama beberapa tahun beliau tinggal di pondok pesantren yang diasuh oleh Kiai Haji Khairuman itu.

Abdikan Hidup Buat Umat

Nabi Muhammad SAW bersabda ‘Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia (lain)’. Hadits ini barangkali menjadi titik-tolok bagaimana Salamun menghargai dan menjalani kehidupan. Komitmennya kepada kemanusiaan, membaktikan waktu untuk syiar Islam telah tertanam kuat saat dirinya masih lajang. Apakah komitmen tersebut meluntur tatkala menikahi Hj Khalilah atau saat hendak membangun biduk rumah tangga? Ternyata sedikitpun tidak.

Saat hendak mempersunting Hj Khalilah, Salamun berkata ‘Sampeyan (Hj Khalilah) kalau mau hidup dengan saya, jangan minta dinomor satukan. Yang nomor satu itu masyarakat. Saya jadi orang besar karena dibesarkan oleh masyarakat. Saya bisa menafkahi hidup, bukan dibiayai orangtua, melainkan dibiayai masyarakat’. Ungkapan itu lahir tak lain karena kecintaannya terhadap Islam.

Bagi Salamun, perjuangan menegakkan syiar Islam tak pernah habis dan tak boleh terhalang oleh alasan dan sebab apapun. Terharu dan kagum pada kekuatan dakwah Salamun, Hj Khalilah menerima pinangan Salamun. Pasangan ini menikah pada 9 Oktober 1993 dan dikarunia tiga anak. Diurut dari sulung ke bungsu, ketiga anak itu yakni Muhammad Zakky Fuadi yang lahir pada 1995, Zakiya Kamila yang lahir pada 1997 dan si bungsu bernama Muhammad Labib Karim yang lahir pada 2004. Keluarga ini tinggal damai dan rukun di Gang Wonodadi, RT/RW 003/010, Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.

Semasa hidup, Salamun merupakan kepala keluarga yang jarang berdiam diri di rumah. Waktunya sering lebih banyak dihabiskannya berdakwah keliling kampung dan desa. Salamun betul-betul menjalani hidup sebagai pendidik. Selain menjadi dosen bagi mahasiswa IAIN Kota Pontianak, beliau juga pendidik bagi masyarakat umum. Salamun kerap diundang oleh majelis-majelis taklim untuk mengisi pengajian. Salamun sangat sadar, dia menjadi besar karena dibesarkan umat. Maka dari itu, jika umat membutuhkan tausiyahnya, Salamun senantiasa siap meluangkan waktu memberikan ceramah kepada umat.

Performanya yang tak pernah kenal henti mengisi pengajian-pengajian umat lambat laun terdengar publik. Kemahirannya dalam pengetahuan keagamaan membuat Radio Republik Indonesia (RRI) Pontianak mendaulatnya menjadi dai yang siar secara on air dan off air. Dia diminta untuk menjadi dai yang mengisi acara ‘Mentari Pagi’. Salamun sangat senang demi mengetahuinya. Bukan apa-apa, dia berpikir, syiar yang disampaikannya bakal menjangkau umat dalam skala luas. Lewat siaran radio, tausiyahnya tidak hanya dapat didengar oleh satu komunitas, satu desa atau satu kampung, melainkan dapat didengar oleh masyarakat lintas kawasan. Sadar pada kelebihan radio yang siarannya mengudara luas, Salamun menginginkan memiliki radio sendiri. Dituturkan oleh Hj Khalilah, jika ada radio di rumah, dia lebih mudah berdakwah. Artinya, cukup dari rumah, pengajiannya sudah dapat didengar oleh masyarakat lintas tempat. Sayang, keinginan mulianya belum tercapai karena Allah lebih dulu memanggilnya.

Dakwahnya ternyata tidak hanya melalui siaran radio, Televisi Republik Indonesia (TVRI) Kalimanta Barat juga memakai jasanya untuk menjadi dai. Media cetak pun yaitu Pontianak Post memintanya mengisi rubrik tanya-jawab seputar Ramadan pada Bulan Ramadhan. Bagi Salamun, selama kegiatannya bernuansa dakwah Islam, dia senantiasa bersedia. Salamun ingin, apa yang dikuasainya tentang keislaman dapat disampaikan ke umat. Kehidupannya benar-benar dibaktikan kepada dan untuk kemanusiaan. Dia tahu jika surga itu luas. Maka umat Islam harus beramai-ramai memasukinya.

Mendidik Anak Usia Dini

Bagi pengusaha, tanah kosong kerap disulap menjadi hunian bernial jual ekonomis. Jika bukan menjadi rumah toko (ruko) atau rumah kantor (rukan), biasanya menjadi rumah hunian. Akan beda halnya jika tanah kosong itu dimiliki pendidik. Biasanya, tanah kosong itu dimanfaatkan sebagai tempat belajar-mengajar sebagai ladang untuk menanam pahala dan berkah bagi kehidupan akhirat kelak. Kenyataan inilah yang berlaku pada diri Salamun ketika menyulap tanah kosong di samping rumahnya menjadi Taman Pendidikan Anak/Alquran (TPA) Raudhatul Athfal Mamba’ul Hidayah di samping rumah beliau di Gang Wonodadi, Desa Arang Limbung, Kabupaten Kubu Raya. Salamun membangun TPA itu kisaran tahun 1997-1998. Di TPA itu, dia bersama istrinya mengajar mengaji, dasar-dasar ilmu agama, bagaimana cara berwudhu yang benar, salat yang benar berikut adab sopan santun.

Pendidikan karakter memang harus dimulai sejak dini, pengenalan pada dasar-dasar agama Islam harus dimulai sejak masa kanak-kanak. Barangkali Salamun berpikir, perkembangan informasi dan teknologi, selain berdampak positif, juga berdampak negatif terhadap perkembangan psikologis anak-anak. Lewat TPA yang dibangunnya, dia ingin anak-anak sudah mengakrabi apa itu Islam, bagaimana mengaji. Tentu sangat sederhana sekali. Saking sederhananya, justru banyak orang mengabaikannya.

Sebelum TPA dibangun, Salamun mengajarkan anak mengaji di Masjid Nurul Falah yang letaknya pas di samping rumah beliau. Namun, saat TPA terbangun dengan dua lantai, kegiatan belajar anak berfokus di TPA tersebut. Tercatat, sebanyak 90-an anak belajar di TPA itu.

Gemar Sedekah dan Puasa Senin-Kamis

Dituturkan oleh Hj Khalilah, semasa hidup, Salamun merupakan pribadi yang senang bersedekah. Sedekahnya cukup sederhana yakni membeli jajanan-jajanan pasar atau kue-kue ringan untuk dibawa ke kantor.

“Kue-kue itu kemudian diberikannya ke teman-teman sekantornya. Lalu, kebiasaannya yang sering dilakukan yaitu memberikan kue ke petugas pengisian BBM di SPBU saat akan mengisi bahan bakar bensin untuk sepeda motornya. Kuenya macam-macam, dari kucur, bolu dan kue-kue lain,” ungkap Hj Khalilah.

Kebiasaan lain yang konsisten Salamun terapkan yaitu berpuasa sunah Senin-Kamis. Sejak muda,  Salamun sudah sering berpuasa sunah Senin-Kamis. Konsistensi berpuasa sunah itu terus dilakukannya sampai tua. Bahkan ketika malaikat maut mencabut nyawanya, dia dalam keadaan berpuasa sunah Kamis. Sehari sebelum meninggal, Salamun berpesan kepada anak dan istrinya. Salamun mengatakan “Orang hidup itu hanya (melakukan) tiga yaitu kerja, makan, ibadah. Dan akhirnya begini (jari beliau menunjuk ke bungkusan tapai yang saat itu tengah dimakannya dan habis).”

Saat itu, Hj Khalilah belum mengerti maksud akhir perkataan Salamun. Hj Khalilah baru sadar jika maksud perkataannya yang berbunyi ‘Dan akhirnya begini’ adalah bahwa manusia akan mati dan dibungkus dengan kain kafan, seperti halnya tapai yang dibungkus daun pisang.

Salamun wafat pada Kamis, 29 Juli 2009 pada pukul 13.00 WIB dan dimakamkan di pemakaman umum di Jalan Adi Sucipto, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Dia wafat dalam keadaan berpuasa sunah Kamis, ibadah sunah yang konsisten dilakukannya semasa hidup. (Saiful Bahri al-Maqtul)

Penulis adalah aktivis PMII yang pernah nyantri di TMI Al-Amien Prenduan, Sumenep.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *