Home / Figur / Heri Purnomo, Sang Motivator Petani

Heri Purnomo, Sang Motivator Petani

purnomoJadikan Dusun Karya Usaha sebagai Sentra Holtikultura

Di saat sebagian puluhan ribu hektare lahan milik beberapa kelompok tani di Dusun Karya Usaha, Desa Kuala Mandor A, Kecamatan Kuala Mandor B, Kabupetan Kubu Raya, hanya ditanami padi, pada waktu bersamaan para petani hanya bisa terpaku menunggu hasil panennya yang cukup lama.

Lantaran lahan yang cukup luas, para petani hanya mampu menanam di sebagian petak lahan saja. Hasil padi yang mereka dapat tatkala panenpun, tidak seberapa. Sebab petani masih melakukan cara tanam tradisional dan dihadapkan dengan persoalan pasang surut air Sungai Landak, tepat di dekat pertanian mereka, yang membuat hasil panen lebih sedikit dibanding kawasan lain.

Kondisi para petani yang tergabung di beberapa kelompok tani (poktan) itu, terjadi pada sekitar tiga tahun lalu. Tapi kini, semenjak hadirnya sosok Heri Purnomo (42) yang datang untuk melakukan pendampingan, lahan-lahan yang tak terpakai kemudian berdaya guna untuk pertanian holtikultura.

“Harapan saya, dari pesisir-pesisir inilah kita angkat menjadi desa swasembada holtikultura dan beras,” ujar Heri, saat kegiatan panen raya Melon Sonya, Kelompokm Tani Sidomulyo, Dusun Karya Usaha, Rabu (20/10).

Menurut pria asal Kediri, Jawa Timur ini, selain pasang surut Sungai Landak, masalah utama yang dihadapi pera petani setempat adalah minimnya pengetahuan. “Sebagian mereka tidak paham memanam dengan metode baru,” katanya.

Maka dari itu, Heri yang mendampingi ribuan anggota kelompok tani ini, memberikan pengetahuan dalam hal menanam padi dengan teknologi modern, dan pemanfaatan lahan kosong untuk digunakan ke peratnian holtikutura.

Di lahan sekitar 25 ribu hektare, sebagian lahan para anggota kelompok tani kini tidak hanya ditanami padi. Sebagian lahan saat ini telah ditanami tanaman holtikultura, di antaranya Melon Sonya, Golden Mama (labu), Jambu Jamaika, dan Gambas.

Alhasil, Rabu (26/10), kelompok dampingan Heri, Kelompok Tani Sidomulyo melaksanakan panen raya Melon Sonya. Tidak tanggung-tanggung, pada kegiatan itu dihadiri orang nomor satu di Kabupaten Kubu Raya, Bupati Rusman Ali, dan dihadiri pula oleh instansi terkat dan pemerintah desa dan kecamatan.

Selain sektor pertanian, Heri juga menggerakkan warga untuk mengembangkan di sektor lainnya. Beberapa petani sudah ada yang memelihara kambing dan membuat keramba untuk sektor perikanan.

“Hampir 80 persen setip poktan, mempunyai kandang untuk memelihara ayam pedaging,” sebutnya.

Menurut Heri, lahan di Dusun Karya Usaha memiliki jenis tanah dengan kualitas baik. Tingkat kandungan mineralnya, lebih bagus dibanding dengan jenis tanah lainnya, sehingga tingkat kesuburan tanah sangat baik.

“Kalau tanah di sini, tingkat kesuburannya bisa sampai 80. Di sini juga, untuk pengairan lebih mudah. Tapi yang menjadi masalah, pasang surut Sungai Landak.  Biasa bisa panen tiga sampai empat kali, tapi di sini cuma dua kali,” terangnya.

“Untuk menanggulangi pasang surut, kita siasati dengan menggunakan mesin robin. Tapi memang kalau sudah air pasang, robin juga tidak mampu,” jelas Heri yang juga memiliki lahan pertanian di dusun setempat.

Pangsa pasar hasil pertanian holtikura di Kalbar, dikatakan Heri, sangatlah menjanjikan. Bahkan, harga jualnya bisa mencapai 200 persen lebih tinggi dibanding harga di Pulau Jawa.

Untuk saat ini, hasil panen kelompok tani di Dusun Karya Usaha, dijual ke sebagian pasar modern dan tradisional. Sebagian lagi, permintaan datang dari negara lain.

“Khusus punya saya, saya pasarkan ke pasar swalayan, ada nyeberang juga ke Malaysia. Untuk pertanian warga, saya tampung dengan permodalan saya kasi pupuk dan bibit. Dan ada juga yang di jual ke Pasar Flamboyan,” katanya.

Kepada para petani, Heri berpesan untuk tidak mudah menyerah dalam berusaha di bidang pertanian. Memang, kadang kala akan mengalami masa di mana bertani akan gagal. Tapi, selama punya kemauan kuat untuk belajar, maka permasalahan yang ada akan bisa diselesaikan.

“Jadi, kegagalan itu biasa. Tapi seringkali ini menjadi alasan petani untuk tidak bertani lagi. Sebetulnya, kita perlu banyak menambah pengetahuan. Semakin banyak belajar, maka semakin besar peluang sukses di pertanian,” tuturnya. (umar faruq)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *